dehumanisasi de.hu.ma.ni.sa.si
[n] penghilangan harkat manusia
(~kamus besar bahasa)
Awal Keterpisahan
Secara bahasa sepertinya adalah hal yang asing bagi kita semua, dimana kita bukanlah manusia lagi. Ini adalah sebuah kenyataan baru dalam hidup harian masyarakat modern. Bagaimana tidak, kita terprogram secara rutin setiap harinya, tanpa disadari kita semakin jauh dari sisi kemanusiaan kita.
Atas dasar kebutuhan ekonomi kita memilih untuk menjadi sebuah mesin pekerja yang menghasilkan benda atau jasa bagi perusahaan tempat kita mengabdi untuk memperoleh uang sebagai media bertahan hidup. Bahkan pada akhir pekan kita juga terprogram untuk kesenangan yang harus ditebus dengan materi yang kita dapat pada hari kerja.
Keterpisahan dalam masyarakat pun juga terlihat jelas dalam pemukiman sehari-hari, kesibukan akan dunia kerja membuat kita melupakan relasi sosial di masyarakat. Kita hanya mengenal manusia dari pekerjaannya, sebagaimana kita menamai mesin. Dalam hidup bertetangga kita mengenal adanya pak satpam, pak petugas sampah, pak rt, pak sayur, pak sate dan sebagainya hingga pak pemuka agama. Hal yang sama juga terjadi di dunia kerja dimana hanya ada pak sekuriti, office boy, pak kepala bagian, pak manajer, pak bos, pak supir dan sebutan lainnya.
Hal ini semakin membuat manusia semakin jauh dari kodratnya, sebagai mana kita menamai mesin fotokopi, mesin ketik, mesin potong rumput dimana semua penamaan berdasarkan fungsi dan kegunaan kerjanya. Pengelompokan manusia semakin memisahkan relasi sosial yang ada, kebutuhan untuk mengenal manusia lain hanya dari sisi tugas masing-masing individu, akankah mesin fotokopi mengenal mesin cuci, mesin fotokopi mungkin akan mengenal dengan baik mesin pemotong kertas dari pada mesin cuci atau mesin pompa air, karena relasi pekerjaannya.
Dalam kehidupan sehai-hari kita juga menemui keterpisahan, akankah pak manajer bank mengenal pak sayur, dari sisi pekerjaannya mungkin pak manajer akan menyuruh pak supir atau office boy sebagai perpanjangan tangannya untuk menggunakan jasa pak sayur. Tetapi ketika pertanyaan menjadi apakah Pak Roy (manajer bank) mengenal Pak Udin (pedagang sayur), maka akan memungkinkan bila relasi sosial tidak terkelompokkan atas pekerjaan.
Disamping keterpisahan itu kita juga semakin ditegaskan dengan adanya tolok ukur bahwa kekuatan utama manusia adalah kekuatan finansial, ketika finansial semakin kuat maka kebutuhan akan relasi akan dinilai dengan materi. Relasi sosial akan semakin terpisah dimana manusia menjadikan uang sebagai tolok ukur segala hal, dimana tenaga, pikiran dan perasaan hanya dihitung berdasarkan nilai mata uang. Dan batasan relasi sosial akan semakin dipertegas dengan nominal pecahan mata uang, ketika hal itu terbayarkan maka hubungan antara manusia dapat dinyatakan selesai.
Relasi sosial semakin disamarkan dengan munculnya jejaring sosial maya yang membuat manusia semakin dekat satu sama lainnya, namun hanya didunia teknologi komputer, dimana manusia akan semakin sering berinteraksi dengan mesin-mesin ciptaan korporasi dibandingkan dengan interaksi di dunia nyata, sebuah kepasifan yang diterima dengan suka rela. Disatu sisi hidup kita dimudahkan komunikasi, tetapi relasi sosial diruntuhkan oleh telekomunikasi yang dikuasai oleh negara dan korporasi.
Apa yang membedakan manusia dengan mesin, mungkin saat ini sudah tidak ada, dehumanisasi adalah hal yang nyata dalam masyarakat, cepat atau lambat semua manusia akan melupakan keberadaan relasi sosial, manusia akan melupakan kesenangan dan manusia akan melupakan hidup hariannya.
Penyadaran dari sisi lain
Dalam media saat ini kehidupan manusia digambarkan dalam sebuah kehidupan yang sempurna, dimana segala sesuatu yang dilakukan manusia memiliki tolok ukur
kebahagiaan. Sebuah pemahaman yang sangat unik, dimana apabila seseorang berada dibawah standard sosial maka akan dianggap sebagai manusia yang tidak bahagia.
Apakah selamanya manusia akan berbahagia? Sebuah jawaban yang pasti adalah manusia tidak akan pernah merasa puas akan segala sesuatu. Sehingga media akan mengeksplorasi lebih dalam akan devinisi baru kebahagiaan, padahal manusia saat ini sedang berpacu untuk memenuhi kebahagiaannya.
Ketika ketergantungan akan media menjadi sebuah hal yang fital, maka masyarakat saat ini adalah masyarakat buatan media. Bahwa kenyataan manusia sudah bukan lagi manusia seutuhnya, maka media mengeluarkan figur lain yang digambarkan dalam bentuk yang menyeramkan, sebuah makhluk hidup yang tidak lagi hidup, makhluk mati tanpa akal yang bergerak layaknya makhluk hidup. Selamat sebuah kata Zombi.
Zombi kita kenal sebagai mayat hidup, bergerak seperti halnya manusia, mereka mencari makan, mereka menyukai otak manusia. Sebuah deskripsi sempurna untuk menggambarkan manusia modern. Dimana kita bekerja, sepertinya memiliki kontrol atas hidup kita, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan, dan kita menyukai uang.
Media dengan santainya memperolok keberadaan manusia di dalam sistem hari ini dalam dunia hiburan, munculnya film zombie di jagad entertainment tentunya membuat manusia merasa semua yang ada dalam hidup kita saat ini adalah baik-baik saja. Perkembangan teknologi juga membuat manusia semakin yakin bahwa zombi disebabkan oleh virus yang berbahaya, yang merupakan sebuah ancaman bagi manusia nantinya. Bahwa kenyataan kita adalah zombi semakin terlupakan, dan masyarakat di bayangi oleh teori konspirasi yang bernama “zombie apocalipse”.
Suatu masa dimana virus yang ada dalam film fiksi menjadi sebuah keadaan yang nyata, sehingga manusia menyerahkan segala kebebasannya kepada pemerintah sebagai pemilik sistem keamanan tercanggih saat ini. Dengan menyerahkan segala bentuk kebebasan kepada pihak lain maka manusia tidak lagi memiliki kontrol atas dirinya, manusia menyerahkan jiwa dan raganya untuk sistem hari ini, dimana kebebasan diserahkan kepada negara dan keuangan diserahkan kepada korporasi. Inilah fakta manusia modern saat ini.
Saatnya mengambil alih hal ini
Begitu banyak jurang pemisah diantara relasi sosial masyarakat saat ini, sehingga siapa pun yang tidak memiliki relasi pekerjaan dan relasi keuangan dengan kita adalah orang asing bagi kehidupan kita. Mungkin hal ini sudah menjadi hal yang biasa, namun perlu kita ingat lagi bahwa ini adalah wujud dehumanisasi yang dari tadi kita bicarakan.
Mari pererat lagi relasi sosial, bahwa sudah saatnya kita mengatur lagi sistem hari ini, rebut kembali hidup kita, buat retakan besar dalam sistem sosial saat ini. Semua manusia adalah setara dalam dunia yang kita tinggali saat ini, kita sama-sama memiliki peranan besar untuk mengatur masa depan. Kembali ke tujuan asal keberadaan manusia di bumi ini, sebagai bagian dari bumi, mengenal, memanfaatkan seperlunya dan menjaga keseimbangan ekosistem bumi ini.
Banyak kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan nominal sistem ekonomi hari ini, relasi sosial adalah warisan turun temurun yang tidak seharusnya bergeser karena perkembangan zaman, manusia adalah manusia yang merdeka, bukan lagi mesin pekerja, mari re-humanisasi dirimu!
