Stimulasi si kulit bundar
MENIKMATI HIDUP SEBAGAI KOMODITAS
commodity n [c] (pl-ies) useful thing, esp an article of trade; product *
Komoditas segala sesuatu yang diproduksi dan dipertukarkan dengan sesuatu yang lain (uang) untuk memperoleh nilai lebih.
Komodifikasi proses menjadikan sesuatu yang sebelumnya bukan komoditi, sehingga menjadi komoditi
Memaknai komoditas yang menjadi komodifikasi
Ketika kita menyadari bahwa banyak hal yang sudah menjadi komoditas, bahkan dewasa ini komoditas sudah mengalami pergeseran makna menjadi lebih kompleks (makna yang di-upgrade) oleh kapitalisme lanjut menjadi komodifikasi. Semakin membuka peluang untuk marketer-marketer korporasi untuk menemukan pasar baru, dengan artian menemukan barang dagangan baru untuk dijual dan menemukan segmen pasar baru yang bisa mengalirkan pundi-pundi uang.
Mungkin 50 tahun yang lalu dinegeri ini orang-orang akan merasa heran untuk membeli segelas air mineral dalam kemasan, karena waktu itu air putih adalah sebuah hal yang sudah menjadi tradisi untuk disuguhkan bagi siapa saja secara gratis. Bahkan pada awal pendobrakan pandangan umum untuk menyediakan produk air mineral dalam kemasan pun korporasi perintis juga mendapat cibiran dari sesama pengusaha dan masyrakat. Namun dalam kondisi sekarang, saat ini di negeri yang sama, masyarakat akan lebih nyaman dan pasti memilih untuk membeli air mineral dalam kemasan daripada disuguhi segelas air putih oleh pedagang makanan dipinggir jalan.
KETIKA SUPERMARKET MENJADI SEGALANYA
Seberapa sering kita menikmati makanan tradisional, jajanan pasar, atau seberapa sering kita berbelanja di pasar-pasar tradisional, atau membeli sayuran di pedagang sayur keliling.
Merubah kebiasan
Bagaimana serbuan dalam bentuk imaji visual mengarahkan pola konsumsi kita dari penikmat produk-produk yang membutuhkan sedikit pengolahan atau tidak sama sekali menjadi seorang yang sangat memuja konsumsi produk-produk dalam kemasan yang dihasilkan oleh korporasi transnasional. Bagaimana kita digiring dari pencinta kopi tubruk di warung kopi pinggir jalan menjadi seorang modern yang menikmati black coffe di gerai kopi internasional yang rasanya nyaris tidak berbeda sama sekali. Sentuhan embel-embel “tambahan nutrisi”, “formula khusus”, “diperkaya vitamin dan mineral” merubah pandangan dan pola konsumsi yang “kuno” dan “tradisional” menjadi pola konsumsi yang “modern” dengan “citarasa kulit putih”.
Lihat saja bagaimana kebiasaan sarapan pagi dengan makanan nasional kita (nasi goreng dengan telur mata sapi, lontong sayur, atau menu nasional lainnya) di”citra”kan sebagai sebuah kebiasaan yang ketinggalan zaman, sebuah tindakan yang tidak efisien dari segi waktu penyajian. Serbuan pariwara baik audio maupun visual, memberikan solusi baru dalam sebuah sarapan pagi yang modern dan efisien dengan bentuk sarapan pagi dengan budaya “barat” (dimana menu sereal dan susu, roti lapis dengan daging dan keju menjadi kebiasaan baru). Tidak pernahkah kita mencoba untuk menelaah dan memperhatikan sisi lain dari sebuah nilai modern dan efisien tadi, berapa jumlah kalori yang diterima oleh tubuh, meluangkan waktu bersama keluarga atau orang-orang terdekat lainnya dalam sarapan pagi yang dibumbui oleh dialog-dialog penambah semangat untuk aktivitas seharian nantinya.
INDUSTRIALISASINDUSTRI
Sejarah lahirnya industri
Berbicara mengenai hadirnya industri maka kita tidak akan terlepas dari dampak hadirnya revolusi hijau, munculnya sebuah peradaban baru mengenai eksploitasi hasil alam untuk memenuhi kebutuhan, keinginan untuk menjaga persediaan pangan hingga ketahanan pangan1 yang menggiring munculnya keinginan untuk saling menguasai.
Sepertinya semua mungkin sudah memahami sejarah lahirnya industri, penemuan teknologi mesin uap, kebutuhan konsumsi dalam skala besar2, memaksa proses produksi bergerak lebih cepat, lebih efisien dengan harga yang bersaing dipasaran untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian proses produksi yang lebih besar membutuhkan tenaga kerja yang lebih besar pula, untuk mengurangi beban biaya produksi, maka pada masa itu jam kerja ditingkatkan dan upah diturunkan, bla..bla..bla…, terjadi pergolakan mengenai kesepakatan upah, jaminan kesehatan dan bermacam tuntutan untuk kesejahteraan kaum pekerja terus bergolak hingga saat ini, karena kapital, korporat, birokrat dan aparat tidak akan memudahkan pekerja untuk sejahtera, sebelum mereka meraih keuntungan terlebih dahulu. Pergolakan kaum buruh pun dicatat sebagai peristiwa penting dalam sejarah manusia seperti revolusi industri, revolusi perancis dan banyak revolusi yang disebabkan tingkat kesejahteraan yang berbeda antara kaum borjuis dan proletar dimasa itu.
Lalu menjadi sebuah pertanyaan bagaimana mungkin industri menjadi sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan semua manusia? Bukankah industri hanya sebuah problem bagi pemilik pabrik dan pekerjanya, bukankah industri bukan ancaman bagi kita semua, insureksi hanya akan terjadi bagi pekerja buruh, bukan kawan, ini adalah permasalahan kita semua, artikel ini mencoba mengulasnya.
Hey Kawan, Mari Kita Berlibur
Jika pemungutan suara bisa merubah segalanya, itu pasti illegal – Ray Cunningham
Beberapa tahun belakangan, negeri ini katanya mengalami kemajuan pesat dalam demokrasinya. Pilkada secara langsung, misalnya. Tapi ah, itu cuma pendapat elit politik saja. Buktinya demokrasi yang dijalankan tetap bukan solusi terbaik. Pemimpin boleh silih berganti, tapi kenyataannya semua tetap berjalan sama saja.
Lihat saja hasil dari pemilihan kepala daerah, di mana-mana justru dimenangkan oleh golput. Secara kasar, berarti masyarakat sudah tidak lagi percaya dengan demokrasi perwakilan yang diterapkan saat ini. Bermacam alasan diutarakan, mulai dari yang merasa golput adalah solusi, calon pilihan tidak ada yang sesuai, namanya tidak terpampang dalam daftar pemilih, hingga mereka yang jenuh memilih atau tidak memilih karena tidak akan memberikan perubahan.
HOMOPHOBIA masih relevankah?
Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul setiap saya melihat orang yang merasa aneh, jijik bahkan antipati terhadap hadirnya komunitas homosexual (gay, lesbian atau apapun sebutannya) dalam keseharian. Toh kita semua sama kan.. tetep aja manusia, oke.. saya manusia, dia manusia dan mereka juga manusia. Mmmmmm.. coba saya pertegas "saya" (dalam hal ini yang menolak adanya homophobia), "dia" (yang homophobia itu tadi) dan "mereka" (yang ditakuti oleh si-homophobia itu tadi) wah disini saya semakin membingungkan keadaan. Terserah lah, disini saya Cuma mau membahas alasan saya untuk menolak homophobia.. yang tentunya dengan beberapa alasan yang saya kemukakan, yang utamanya karena hak asasi manusia! kita semua sama, kesetaraan!
