Sebuah pertanyaan yang seringkali muncul setiap saya melihat orang yang merasa aneh, jijik bahkan antipati terhadap hadirnya komunitas homosexual (gay, lesbian atau apapun sebutannya) dalam keseharian. Toh kita semua sama kan.. tetep aja manusia, oke.. saya manusia, dia manusia dan mereka juga manusia. Mmmmmm.. coba saya pertegas "saya" (dalam hal ini yang menolak adanya homophobia), "dia" (yang homophobia itu tadi) dan "mereka" (yang ditakuti oleh si-homophobia itu tadi) wah disini saya semakin membingungkan keadaan. Terserah lah, disini saya Cuma mau membahas alasan saya untuk menolak homophobia.. yang tentunya dengan beberapa alasan yang saya kemukakan, yang utamanya karena hak asasi manusia! kita semua sama, kesetaraan!
Homophobia di masyarakat
Secara bahasa Homo berarti sama, phobia artinya rasa takut yang berlebihan dan cenderung tanpa dasar, jadi homophobia secara bebas artinya orang yang takut dengan homosexual. Secara umum homophobia meliputi bagian besar dalam masyarakat kita, seberapa besar sih.. yang jelas cukup besar sehingga seringkali saya menghadapi banyak perdebatan dalam mengeluarkan uneg-uneg bahwa saya bukan homophobia. Saya tetap menghargai pendapat para homophobia tapi berusaha untuk merubah pola pikir mereka mengapa harus menjadi homophobia, dari penjelasan umumnya mereka menolak homosexual karena alasan agama, karena jelas tertulis dalam kitab suci bahwa Homosexual adalah perbuatan dosa yang dilarang oleh agama. Oke saya terima alasan itu, tapi coba dipahami lebih dalam mengapa homosexual dilarang, satu-satunya penjelasan homosexual dalam kitab suci hanya terdapat pada kisah Nabi Luth.
Sejarah Kaum Sodom
Inilah yang menjadi alasan mengapa homophobia adalah sebuah kondisi mutlak yang diterima oleh masyarakat dan dididik untuk menerima bahwa masyarakat harus homophobia. Kaum Sodom adalah kaumnya Nabi Luth (Nabi Luth yang dalam sejarahnya hidup berdampingan dengan Nabi Ibrahim pada saat Ismail belum lahir, sebuah waktu yang sangat lama sekali bahkan sebelum ka'bah dibangun), mereka suka dengan sejenis, mereka berhubungan sexual dengan sesama jenis. Setiap ada pemuda yang datang ke tempat mereka maka akan dipaksa untuk memuaskan hasrat sexual mereka, sehingga mereka dijatuhi azab dan musnah nggak ada bekasnya. Bahkan diceritakan dalam penjelasan ahli kitab ditambahi bahwa homosexual akan menimbulkan berbagai macam penyakit menular sexual.
Masi relevankah
Disatu sisi saya menghormati dan menghargai semua perintah, sejarah dan kejadian yang terkandung dalam kitab suci, tapi sebagai manusia yang berfikir, saya jelas-jelas juga harus menentang sikap fasis yang mendoktrin bahwa saya harus menjadi seorang homophobia. Coba kita cermati lebih dalam tentang kondisi yang terjadi pada kaum sodom
• mereka hidup pada zaman yang sangat gelap sekali (dalam hal ini dapat dikatakan jahiliyah), dalam beberapa kisah juga dikatakan pada saat itu dalam kondisi perang dan kekacauan. Dibandingkan dengan kondisi sekarang dimana masyarakat sudah mempunyai kemampuan untuk berpikir dan dapat memilah,menganalisis setiap keadaan.
• pada masa itu perilaku sexual masyarakat kaum sodom lebih kearah sodomasokis, pemaksaan kepada setiap laki-laki yang ada dan datang ke tempat mereka. Dibandingkan dengan keadaan sekarang gay dan lesbian bahkan tidak memaksakan keinginan sexual mereka secara paksa dan menggunakan kekerasan. Mungkin dua hal mendasar itu dulu yang saya kemukakan untuk membuka pandangan bahwa keadaan dulu dan sekarang itu sudah berbeda, kesadaran masyarakat akan adanya penyakit menular sexual juga semakin tinggi, kesadaran akan kekerasan bukanlah hal yang harus dipertahankan juga semakin baik tentunya kondisi sekarang sudah berbeda sekali kan..
Tapi ada satu kisah yang sedikit kita lewatkan dibalik runtuhnya kaum Sodom, coba lihat kembali Al-Kitab Kejadian 19:30-36, bukan bermaksud menambah permasalahan tetapi disana tertulis apa yang dilakukan oleh Luth setelah meninggalkan bangsanya.. (wah ternyata incest lebih dihormati dalam kitab Tuhan dibandingkan homosexual, hahaha coba baca kembali) Sehingga bukan hal yang baru bila saya juga menanyakan bahwa masih relevankah bila kita menjadi homophobia? Ditambah lagi dengan adanya Hak Asasi Manusia yang menyatakan setiap manusia memiliki hak dasar untuk menjadi manusia merdeka..
Ya, Equality.. bukannya setiap orang itu setara nggak ada yang beda , bahkan dalam agama pun kita juga diajarkan bahwa kita semua itu derajatnya sama kan.. trus mengapa tetep dipertahankan homophobia itu tadi? Yang jelas-jelas menuduh bahwa homosexual adalah tindakan yang salah dan direndahkan yang selanjutnya harus dimusnahkan.. ya ini yang saya sebut standar ganda dalam nilai keagamaan!
Alasan masyarakat homophobia
- Para Homosex itu nggak bakalan bisa nikah!
Wah.. jangankan cuma gay dan lesbian, bahkan saya sendiri juga belum pasti bisa nikah dengan pacar saya sekarang.. salah satu alasannya saya belum siap berkeluarga dan mau dikasih makan apa istri saya nantinya..
- Nggak bakalan bisa punya keturunan!
bagaimana dengan pola konsumsi masyarakat yang juga bisa menyebabkan gangguan reproduksi manusia seperti konsumsi rokok yang berlebihan, penggunaan zat-zat kimia berbahaya, bahkan mungkin juga adanya penyakit yang cukup berbahaya sehingga menyebabkan seseorang tidak bisa memiliki keturunan..
- Nggak lama lagi mereka juga bakalan
putus dari pasangannya dan ganti pasangan baru lagi! Wah.. kalo ini sih tiap orang juga bisa digosipin bakalan putus.. Realistis dong!
-Risih kalo liat pasangan sejenis di publik! Kenapa mereka membuat risih.. Jangankan liat gay atau lesbian, masyarakat kita sekarang aja ngeliat anak punk aja risih, ngeliat cewek bertato aja risih.. Tapi kenapa nggak risih ngeliat prostitusi dibawah umur yah.. anak smp/sma yang pacaran sama om-om ditempat umum..
Homophobia.. masih relevankah?
Bukankah manusia punya akal untuk berpikir, ya dimaksimalkan dong jangan cuma menerima dan bahkan kita nggak tau kenapa kita menjadi tidak suka atau benci terhadap suatu hal.. ketidaksukaan yang tidak beralasan, berarti tindakan yang salah.. bahkan nggak mengenali diri sendiri.. ya kan. Kayaknya homophobia bukan lagi sesuatu yang harus dipertahankan.
Bahkan saya sendiri juga sering ngerasa ada standar ganda tentang kebiasaan yang dilakukan oleh para sejenis yang ngakunya homophobia..
- Sewaktu maen sepak bola rame-rame, tiap bikin gol, kok bisa-bisanya pelukpelukan dalam kondisi berkeringat dan bau pula. . alasannya sih meluapkan kebahagiaan karena sudah bikin gol!
- Waktu ketemu sama temen lamaaaaa sekali yang nggak pernah ketemu.. he he bahkan nggak peduli keadaan sekitar yah.. peluk-pelukan juga, trus bonus cipikacipiki.. ooo ternyata alasannya seneng aja ketemu temen lama.
- Ha ha.. kalo ini sering banget dijumpai.. di kost-kostan karena keterbatasan tempat, biasanya cowok-cowok bakalan tidur bareng rame-rame berdesakan kayak ikan sarden dalem kaleng.. Tapi kondisi ini justru semakin menambah kekompakan dan kekeluargaan.
Kalo kondisi yang begini aja nggak ada yang protes, justru dimaklumi dan dianggap wajar.. bener-bener sebuah standar ganda yan harus dipertanyakan. Okelah mau homosex atau heterosex semua juga punya hak masing-masing kan.. itu urusan setiap pasangan, nggak usah usil lah. Eh iya.. perlu jadi homosex nggak untuk ngomongin masalah homosexual? Ato kita harus jadi hantu dulu.. baru boleh cerita soal hantu.. ha ha..
