KITA HANYALAH PENONTON
Begitu dahsyatnya sentuhan magis sepak bola menghipnotis miliaran pasang mata di muka bumi ini, membuat daya tarik tersendiri bagi kita semua, hal ini juga menarik minat para infestor-infestor yang ingin menjadikan sepakbola sebagai mega industri olahraga dan hiburan, menjadikan sepakbola menjadi mesin uang, menghilangkan unsur olah raga didalamnya semua hanyalah kepentingan uang dan uang.
Industri ini semakin menjebak semua individu yang memiliki ketertarikan kepada sepakbola, bagaimana para penjual kemurnian sepakbola membuat bahwa tidak ada yang salah dengan semua kondisi persepakbolaan, dengan menghadirkan sepakbola yang menjadi eksklusif dan mengglobal seolah-olah mereka menutupi fakta bahwa sepakbola hanyalah mesin uang. Dengan dalih profesionalisme, semua pihak ditekan untuk menyuguhkan yang maksimal, menyuguhkan yang terbaik karena mereka telah membayar untuk itu, padahal sejatinya bayaran yang dikeluarkan untuk pihak yang bergerak dalam dunia sepakbola tidak sebanding dengan keuntungan besar yang diterima oleh pihak yang mengeksploitasi olahraga sepakbola menjadi industri sepakbola.
Eksploitasi berdalih profesionalisme, fanatisme dan loyalitas
Bagaimana tidak, kondisi bagi pemain sepakbola yang dibayar untuk berolahraga dibebani dengan porsi latihan yang berat, dituntut untuk tampil maksimal hingga menghadirkan cidera yang membahayakan, bahkan ketika mereka cidera sekalipun dituntut untuk segera sembuh dengan berbagai macam usaha pengobatan dan operasi yang tentunya akan mempercepat kesembuhan, dengan mengabaikan dampak jangka panjangnya. Setelah semua itu jika pemain tidak menunjukkan prestasinya pemain akan dibuang atau dijual, walaupun pemain memiliki penghasilan yang cukup besar tapi ini adalah sebuah usaha perdagangan manusia di era modern ini.
Pelatih sepakbola juga mendapat porsi eksploitasi yang sama, mereka dituntut untuk meramu taktik yang bisa menghadirkan prestasi dan gengsi bagi klub, dituntut untuk bisa mengkoordinir setiap pemain, menjaga mental setiap pemain, sebuah tanggung jawab yang besar namun bila klub tergelincir dalam sedikit kegagalan maka pelatih akan dengan mudahnya dicopot karena tidak profesional.
Kehadiran fans atau penggemar pun menjadi konsumen utama untuk industri ini, mereka dieksploitasi untuk membeli barang dagangan seperti merchandise klub, sebagai wujud fanatisme kepada klub atau pemain fans diharuskan membeli segala sesuatu yang berhubungan dengan idolanya, fans dibutakan dengan pencitraan untuk menjadi seperti idolanya, padahal fans tetaplah fans, tidak memiliki kontrol terhadap pemain dan klub idolanya. Penjualan tiket masuk untuk menebus kepuasan menonton sepakbola dengan dalih untuk keperluan klub, tetapi hal ini adalah bentuk lain pengurasan uang para fans, karena fans hanyalah demografi bagi industri ini, kelompok umur yang bisa dijadikan statistik konsumen lebih dari itu fans tidak bermakna apa-apa.
Klub juga tidak lepas dari eksploitasi para infestor industri ini, mereka merubah klub menjadi sebuah merk dagang dengan jaminan mutu, prestasi tim menjadi tolok ukur, mereka menghadirkan klub sebagai bentuk lain iklan yang bisa menghipnotis siapa saja, menjadikan klub sebagaimana “aliran kepercayaan”, menanamkan loyalitas kepada klub yang tujuannya tetap memperoleh uang dalam jumlah besar baik pada masa jaya atau suramnya sebuah klub sepakbola. Kepemilikan klub sepakbola adalah sebuah wujud suksesnya industri ini memberi nilai prestise dan gengsi, menjadikan individu sebagai pemilik klub adalah sebagai sumber dana yang bisa dieksploitasi, bahkan hadirnya pemilik klub dengan modal besar menggeser hak pelatih untuk mengatur timnya, ataukah pemilik klub adalah pihak yang mengeksploitasi sepakbola menjadi sebuah mesin uang.
PEMAIN DALAM INDUSTRI SEPAKBOLA
Adalah orang-orang yang memperoleh keuntungan besar yang sukses merubah olahraga sepakbola menjadi sebuah industri sepakbola, mereka adalah infestor-infestor yang berpikiran kapitalistik, dimana dengan menanam modal yang sekecil-kecilnya dalam industri ini dan meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dalam industri sepakbola ini. Menggunakan jaringan pemasaran globalnya, dan mengekspos industri ini dalam media-media pemasarannya, memanfaatkan modalnya untuk menekan “pemain sebenarnya” untuk tetap tereksploitasi.
Menekan pemain, pelatih dan klub dengan target-target prestasi, padahal adalah bagimana memenuhi target keuntungan finansial yang menjadi dasar investasi dibidang ini. Memanfaatkan media untuk mendongkrak penjualan hasil produksi para sponsor sepakbola, mengupas habis masalah internal klub, mempertajam persaingan antar klub, meruncingkan fanatisme fans terhadap klub sehingga menjadi sebuah gerakan garis keras yang bisa menimbulkan bentrokan seperti halnya bentrokan antar agama. Membuka strategi pelatih dalam meramu timnya menjadi konsumsi media, hingga mengekspos habis kehidupanpribadi pemain dan pelatih, menjadikan fans fanatik sepakbola menjadi sebuah kelompok yang harus dibenci (padahal kelompok ini adalah fans loyal yang mengerti sepakbola sesungguhnya bukan sepakbola sebagai lahan bisnis), menjadikan orang awam untuk menjadi seperti idolanya atau membuat jaringan fans sepakbola yang tidak pernah hadir langsung ke stadion untuk mendukung tim favoritnya, menjadikan orang awam seperti layaknya fans sejati dengan membeli merchandise klub idolanya. Memainkan hasrat fans untuklebih dekat dengan pemain dan klub idolanya melalui gosip-gosip di dunia sepakbola, hingga menciptakan permainan virtual melalui video game, sehingga fans bisa merasakan euphoria seperti pemain bintang atau menjadi pelatih sebuah klub. Merubah olahraga sepakbola menjadi industri sepakbola yang kemudian memodifikasinya lagi sebagai sepakbolatainment yang menjadikan semua ini adalah mesin uang.
Sepakbola sebagai mesin uang
Hadirnya sponsorship dalam dunia sepakbola adalah hal umum untuk saat ini, tetapi sekian banyak sponsorship tidak semuanya berhubungan dengan sepakbola, seperti jasa perbankan, provider telekomunikasi, makanan, minuman ringan dan keras, perusahaan rokok, rumah judi on-line, perusahaan elektronik, perusahaan otomotif hingga badan dunia pun menjadi sponsor, dan masih banyak bermacam jenis sponsor lainnya, yang mana semua itu tidak ada hubungannya dengan sepakbola, tetapi dengan mensponsori sepakbola mereka telah beriklan dan mampu meningkatkan penjualan produksi dan jasa yang ditawarkannya.
Sedangkan produsen yang berhubungan langsung dengan sepakbola menjadi sebuah perusahaan yang meng-endorse pemain dan klub, dengan kata lain hanya ada satu merk yang mendominasi, sehingga banyak kita melihat pemain dan klub yang kemanapun mereka pergi tidak akan melepaskan merk tersebut, mereka adalah bagian dari iklan dan strategi penjualan. Pemain dan klub mampu mempengaruhi fans untuk menggunakan produk yang sama, bedanya untuk pemain dan klub akan didukung secara pebuh karena mereka adalah bintang iklannya, sedangkan fans yang jumlahnya jutaan kali lipat pemain dan klub harus membeli dan mengkonsumsi, sebuah keuntungan dalam skala besar tentunya.
Hadirnya pemain berkualitas tentunya membuka lahan pekerjaan baru, dimana pemain hanya fokus untuk bermain dilapangan, dibutuhkan orang lain untuk mengurus kebutuhan akan hal legal, keperluan sehari-hari, maka bermunculan berjuta-juta agen pemain sepakbola, yang begitu mahir memanfaatkan peluang untuk meraup uang, menyediakan kucing dalam karung untuk klub-klub yang membutuhkan pemain, semua hanyalah bagian dari industri sepakbola.
Pengurus klub juga tak kalah mahirnya untuk menggunakan kesempatan ini, dengan istilah profesional, mereka menggunakan klub untuk keperluan-keperluan mereka, mereka bukanlah pengurus klub yang sejatinya menghidupi klub sepakbola tetapi mereka menjadi bagian yang dihidupi oleh klub sepakbola, inilah awal peluang munculnya industri sepakbola.
Menikmati detik ini
Lalu, apa yang membuat kita masih menikmati semua pertandingan sepakbola? Terhipnotis, atau adalah naluri manusia dengan oedipus complex-nya, kita terstimulasi oleh bentukan bulat? Selamat datang di era masyarakat tontonan.
